TENTARA AL MIZAN

TENTARA AL MIZAN
Powered By Blogger
Powered By Blogger

Minggu, 06 Desember 2009

Ayah Adalah Pahlawanku

“AYAH ADALAH PAHLAWANKU”
Oleh:Delmin
Setengah jam melewati adzan isya’ telah berkumandang .Beberapa laki-laki berpakaian hitam sedang berbicara dengan ayah.Nada suaranya keras membentak. Sesekali kusibak perlahan tirai pembatas ruang tamu dengan kamar tidur.Sudahlah lebih baik kubereskan saja buku-buku pelajaran untuk besok pagi,gumamku,”.
“Bapak harus sudah meninggalkan tempat ini”sesekali lagi laki laki bertubuh kekar itu membentak ayah.
“Tanah ini sudah saya beli,”ayah tidak mau kalah”silahkan periksa dokumen-dokumen ini,legal”!
“Dokumen-dokumen ini palsu pak!salah seorang berbicara, nadanya berwibawa seraya mengembalikan dokumen itu pada ayah.
Adzan subuh sudah berkumandang ,ayah sudah tidak ada di tempat tidurnya .Aku kagum pada ayah.Sejak kepergian ibuku ia merawatku dengan penuh kasih sayang dan sampai saat ini ayah belum berkeinginan untuk menikah lagi.Ibu meninggal karena sakit paru-paru.Usai sholat shubuh masih ada waktu untuk membereskan rumah.
“Ari,bareng ngak?teriakan Fajar dan Deni membuatku buru-buru menalikan tali sepatu, Fajar dan Deni adalah tetanggaku dan teman sekelasku .Sejak balita kami bersama-sama dan rumah kamipun berdekatan, orang tua kami sangat akrab penderitaan dan kesengsaraan membuat kami merasa senasib hingga menjadi teman dekat satu sama lain.
Pak Ismail wali kelasku pagi ini mengiringi kepala sekolah yang masuk lebih dulu.
“Penyisihan siswa teladan sudah sampai tingkat wali kota, Ari akan mewakili sekolah kita”.Kepala sekolah membuka percakapan usai menjawab salam dari kami.Aku tidak terkejut dengan pemberitahuan ini.Beberapa hari yang lalu pak Ismail memanggilku dan sudah membicarakannya.
Hari-hari ini warga disekitar rumahku selalu ramai.
“Bapak-bapak sedang bergerombol entah sedang membicarakan apa.Ayah hanya sesekali bergabung dengan mereka.”dulu tanah kita ini kita beli dari mereka, kenapa sekarang mereka mau menggusur dan bilang bahwa kita penghuni liar?” pak Tomo berbicara debnganberapi-api.
“Bagaimana kalau kita mengadu pada DPR?”Pak RT memberi solusi.
”Percuma ...!!kita tak bisa melawan mereka.
Mereka ternyata membicarakan rumah-rumah mereka yang akan digusur.Sebagian dari mereka sudah ada yang mengambil uang ganti rugi ,sebagian lagi menolak dan mencoba bertahan dan ayah adalah salah satu dari mereka yang bertahan.
“Kita bagaimana yah?’tanyaku pada ayah.
“Ayah akan bertahan disini dulu, tanah dan rumah ini ayah beli dengan jerih payah bertahun-tahun.
Siang itu sepulang sekolah kuihat wajah ayah begitu gelisah.Ia berdiri didepan pintu sambil memandang ke arah ujung gang.
“Makan dan sholatlah!”ada yang akan aku bicarakan padamu nak"perintah ayahpadaku.
“Ada apa yah?” tanyaku tak sabar sambil menyuap nasi kedalam mulutku,Ayah memandang wajahku.Tangan kekarnya membelai rambutku.Ayah tetap diam, namun wajahnya menerawang.Melihat ayah seperti itu ingin rasanya aku mangambil alih sedikit dari beban yang ayah pikirkan.
“Ayah sakit?”tanyaku mulai khawatir.
Ayah tersenyum lembut.Habiskan makananmu dulu!”ayah akan menemanimu sampai kamu selesai makan,”jawab ayah sambil tetap duduk disampingku.Baju kokoh yang digunakan ayah tampak kusam.Namun itu tak mengurangi kesejukan wajahnya.
Ayah menyodorkan segelas berisis air piutihketika kutelan suapan yang terakhir.
“Ada surat dari kampung ,nenekmu sakit keras”Ayah mulai bicara.
“Sakita apa yah?”kubayangkan tubuh renta diatas tempat tidur.
“Nenekmu sudah tua,usianya sudah 98 tahun.Belakangan ini beliau mulai sakit-sakitan.Beberapa tahun yang lalu saat ayah menjenguk nenek perut nenek membuncit, mungkin itu adalah salah satu penyakitnya”.Ayah terdiam sejenak.
“Kamu belum pernah bertemu dengannya nak, padahal nenekmu ingin bertemu denganmu.Dulu waktu ayah mau mengajakmu kesana, ibumu keberatan, dia mengkhawatirkan keadaanmu.Kamu saat itu masih kecil sekali, akhirnya hanya ayah yang berangkat.
“Aku memang belum pernah sekalipun ke kampung halaman ayah.Menurut ayah kampung ayah terletak di luar pulau jawa, agak di pedalaman.Setelah turun dari bus harus naik angkutan selama tiga jam, terus naik sampan untuk sampai kerumah nenek, semua saudaranya tidak minat mengikuti jejaknya itu sebabnya ayah tidak punya saudara disini.
“Ayah aku ingin ikut,” pintaku.Aku berharap ayah akan mengajakku.
“Kamu sedang mempersiapkan pemilihan siswa teladan itu kan?”ayah memgingatkan.Jangan kau sia-siakan kesempatan itu nak!”.Beasiswa jika kamu terpilih nanti akan bermanfaat bagi sekolahmu.lagu pula kamu sudah cukup besar untuk ayah tinggal sementara waktu.”.lanjut ayah.
“Berapa lama ayah akan pergi?”terbayang olehku jauhnya kampung halaman ayahku, aku pikir ayah akan lama meningggalkanku.
“Tak lama, mungkin sekitar sepuluh hari.Tergantung disana”.
“Kapan ayah berangkat”.
“Insya’ Alloh besok usai sholat shubuh”.
Aku tidak bisa tidur malamnya, terbayang berhari-hari tanpa ayah, juga kalinya ayah meninggalkanku begitu lama.
“Aku hampir terlelap ketika kudengar gemercik air.Takkan kulepas kepergian ayah dengan wajah yang kusut,akan kubuktikan bahwa aku setegar ayah.
Ayat Al Qur’an yang ayah baca usai alfatehah di roka’at kedua menggetarkan hatiku.Entah mengapa aku merasakan kesedihan yang luar biasa.Kucium tangan ayah usai sholat.
“Ayah sudah menitipkanmu pada keluarga Fajar dan Deni, juga pada pak RT.Bicaralah pada mereka kalau ada apa-apa!”.
“Iya yah”,Aku hampir menangis,suara ayah terdengar bergetar.
“ini uang jajan dan uang makanmu, gunakan seperlunya!”.Kata ayah menyerahkan beberapa lembaran uang puluhan dan uang puluhan ribu,aku menerimanya dengan haru.
“Jangan pergi kemanapun sampai ayah kembali, apapun yang terjadi, ingat itu nak!”akan susah ayah mencarimu jika kamu pergi,”suasana yang tak menentu di lokasi rumahku membuat ayahku berpesan demikian.
Lima hari sudah ayah pergi, semuanya berjalan sesuai biasanya kecuali ayah tercinta yang tidak berada di sampingku.Ibu fajar dan Ibu Deni bergantian mengantar makanan untukku, Pak RT sesekali datang untuk melihat keadaanku.Aku tak tau harus bagaimana aku membalas kebaikan mereka.
Sampai pada suatu malam ketika aku sedang terlelap tidur , aku terbangun mendengar suara gemuruh hiruk pikuk di luar rumah.Aku mencoba membuka pintu orang-orang sibuk berlarian kesana kemari ,sambil berteriak-teriak, tangan mereka membawa berbagai macam barang, ada yang dipikul, di tarik bahkan ada yang mengotong almari.
Ternyata saat itu ada sebuah bulldozzer besar yang berjalan mengarah kerumahku seraya mengayunkan beruknya.
“krasak”terdengar bagian kiri rumahku roboh oleh bulldozzer itu.
“Jangan ..!jangan hancurkan rumahku.....!!!aku berteriak sekuat tenaga.
Rasa takut dalam diriku hilang entah kemana, aku membayangkan alangkah sedihnya ayahku kalau tahu rumahnya digusur, aku menghadang bulldozzer itu tepat di depannya, padahal itu membahayakanku.
“Tolong ...!!tolong....tolong jangan hancurkan rumah ayah ..!”
“Hei ...kamu mau mampus...??minggir...!!!!bentak sopir bulldozzer itu.
“tidak... aku tidak akan membiarkan seorangpun merusak rumah ayah...”.
Dasar bocah tengik....matilah kamu bersama rumahmu, sopir itu tetap mengarahkan beruk itu kearahku dan rumahku.Aku tetap diam terpaku aku tak peduli walaupun nyawa terancam aku akan tetap menyelamatkan rumah ayah, hingga jarak bulldozzer itu berjarak tiga meter aku diseret oleh seseorang yang tak kukenal.
“Lapaskan....!!lepaskan aku..!aku harus menyelamatkan rumah ayah ..,ayah akan sedih kalau tahu rumahnya hancur lepaskan.....!lepaskan.............!!!!!
“Akupun terkulai lemas melihat rumahku hancur rata dengan tanah oleh bulldozer keparat itu tanpa kulakukan apa-apa, tak ada yang tersisa untuk diselamatkan.Apa yang aku katakan pada ayah tentang rumah yang hancur ini, pikirku sambil menangis sedih.
“Pagi itu aku tidak berangkat sekolah.Fajar dan Deni mengalami nasib yang sama,namun mereka masih sempat menyelamatkan barang barang mereka yang berharga.Ayah mereka mendengar bahwa akan ada pembongkaran paksa malam ini.Karena itulah mereka berjaga sepamjang malam.TV,kompor pakaian dan berbagai macam alat rumah tangga bertumpuk di satu tempat entah siapa yang punya.
Lokasi bekas rumah yang hancur, ramai sekali.Wartawan dan bantuan mengalir.Fajar dan ibunya menghampiriku,”Agus,ayo ikut kembali saja ke kampung halaman Fajar.Besok pagi kami akan berangkat.Bagaimana kalau kamu ikut dengan kami.?”ibu Fajar menawarkan.
“Terima kasih bu, saya akan tetap disini saja menunggu ayah,”.Aku tak tau sampai kapan aku menunggu ayah.Masih ada waktu yang dijanjikan ayah untuk kembali.
“Ikutlah dengan kami, kalau suasana sudah memungkinkan kita kembali kesini untuk mencarti ayahmu, atau kita bisa titip pesan kepada keamanan di sini,”ibu Fajar kembali membujukku.
“Saya akan tetap menunggu ayah sampai kembali,bu?kujelaskan pesan ayah sebelum pergi.
“Baiklah, tetapi kami tidak menemanimu.Jagalah dirimu baik-baik, ini aku kasih uang untuk tambahanmu nanti, dan sementara nanti kamu bisa ikut pak RT ya, tadi saya sudah berpesan pada beliau”.
“Ia bu,terima kasih”.Jawabku.
“Fajar dan ibunya melangkah meninggalkanku, dengan langkah yang begitu berat, seakan tidak tega meninggalkanku.Deni dan keluarganya juga pindah.Ku dengar mereka pindah di pinggir kota jakarta.Ternyata pak RT juga pindah setelah menawarkan kepadaku seperti apa yang telah ditawarkan ibunya Fajar padaku.
Satu persatu tetanggaku mulai meninggalkan lokasi bekas kampung kami.Aku masih di sini melaksanakan pesan ayah untuk menungguinya.Sisa reruntuhan bangunan aku jadikan tempat berteduh.Sudah berkali-kali penjaga keamanan mengusirku, aku tetap tak mau pergi lalu kejelaskan pada mereka aku hanya tinggal di sini sampai ayahku kembali.
“Hari ini adalah hari ke-lima belas ayah pergi.Tak ada kabar yang kudapat, sisa uang yang diberikan ayah padaku hanya cukup untuk membeli nasi tanpa lauk, itupun hanya untuk sekali makan.Hujan Semalam membuatku menggingil, kedinginan membuatku lapar.
“Kuayunkan langkah menuju kedai makanan untuk membeli nasi ala kadarnya.Aku teringat kemarin di beri uang ibunya Ahmad.Alhamdulillah cukup untuk makan tiga hari.Aku berharap ayah segera pulang.Aku duduk menunggu nasi yang di bungkus oleh penjaga kedai, sambil melihat TV yang di setel, aku melihat dengan seksama berita yang disampaikan oleh penyiar,”pencarian korban terbaliknya kapal motor “CARAKA”sudah dihentikan selama tujuh hari melakukan pencarian tinggal satu korban lagi yang jenazahnya belum ditemukan....”
Mendengar berita itu aku jatuh tersungkur, ketika ingat bahwa ayah naik kapal motor itu.Pandanganku semakin gelap, pandangan di sekitarku berputar semua gelap semakin pekat dan akhirnya aku melihat di sekelilingku gelap semua dan ...............”.
Sebulan kemudian aku sudah hidup mandiri.Dalam perjalananku tanpa arah dan tujuan.Aku harus bekerja untuk mengganjal perut.Aku tidak mau meminta-minta sebagaimana pengamen-pengamen yang malas itu.Satu tujuanku,aku harus bisa sekolah sambil bekerja, hampir dua bulan aku pndah dari rumah ke rumah menyelesaikan pekerjaan yang menghasilkan upah.Dalam perjalananku berangkat menuju rumah tempat bekerjaku terakhir, hujan keras tak kunjung berhenti.Aku berteduh di bawah pohon sambil menggigil kedinginan.Tiba-tiba mobil haltop berhenti menghampiriku, seorang sopir melongkkan kepalanya dan tak menghiraukan kepalanya tertetesi air hujan dan berkata:
“Na kayo masuk sini cepat kasihan kehujanan,”aku terkejut melihat wajah itu seperti wajah ayahku.Bapak itu juga ragu-ragu melihatku dan akhirnya,”nak…..!engkau anakku……..????????.
“Aku berusaha menjelaskan ,”maaf bapak salah lihat.Ayah saya sudah meninggal dalam kecelakaan dalam perjalanan kapal”CARAKA”bulan lalu.
“Nak ……benar aku ini bapakmu.Aku adalah salah satu penumpang yang selamat”.
“Aku sangat terkejut,”jadi ayah selamat…??”.
“Iya,lihat ini wajah ayah nak ….”ucapan bapak itu meyakinkan.
Aku tak kuat menahan tangis, kamipun berpelukan menangis sepuas-puasnya, tapi masih ada sedikit keraguan padaku.Kenapa bapak naik mobil,datang dari mana?.Aku juga tak sadar sedari tadi, ada seorang wanita yang duduk di sebelah kiri ayah dengan tenang, seolah tak mau mengganggu pertemuan kami.
“Ayah wanita di samping ayah siapa..?tanyaku.
“Ayah lalu menjawab sambil tersenyum,”itu ibumu nak, dengan izin Alloh, dialah yang menyelamatkan ayah saat itu”.
Aku memandangi ibu dengan seksama, dalam hatiku bergumam,”koko mirip ibu yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.Kulihat ibu tiriku menggunakan jilbab ukuran besar, warna gelapdan tertempel samping kepalanya perlengkapan cadar.
“Nak ….bersyukurlah pada Alloh yang telah menyelamatkanmu dan ayahmu ini.Alloh pasti memberikan jalan keluar setelah kesulitan.Semua ini anugrah Alloh,”ibu mulai mengucapkan kata-kata padaku.Dan beliau melanjutkan ucapannya,”semua telah menjadi takdir Alloh nak, Ibu mulai sekarang menjadi ibumu dan insya Alloh akan mengasuhmu bersama ayahmu, jangan bersedih lagi yah….”.
Begitulah, akhirnya kami pulang ke rumah ibu di kawasan tebet Jakarta selatan.Hari-hari aku lalui dengan penuh suasana keimanan dan pendidikan yang baik dari seorang ibu yang pendidik, seorang ibu yang sebelumya janda tidak punya anak yang di tinggal mati suaminya karena ikut berjihad di Afghanistan.Dari kecelakaan “CARAKA” ibu ini mempunyai cita-cita ingin membesarkan seorang anak agar menjadi sholeh yang memperjuangkan agama Alloh SWT.
Alhamdulillah ya Alloh mudah mudahan kau ampuni ayah dan ibuku dan jadikanlah aku anak yang sholeh yang akan memperjuangkan agama-Mu seperti perjuangan mendiang suami ibu tiriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar