TENTARA AL MIZAN

TENTARA AL MIZAN
Powered By Blogger
Powered By Blogger

Kamis, 10 Desember 2009

RUMAH TANGGA YANG MENYENANGKAN

Banyak orang menyangka bahwa pernikahan itu indah. Padahal sebetulnya? Indah...sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari dulu menikah? Sahabat, itu adalah secuplik ungkapan yang lazim terdengar tentang pernikahan.
Namun jelas, tak segampang yang dibayangkan untuk membina sebuah keluarga. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah. Namun lebih kepada, adanya keterampilan untuk memanajemen konflik.
Ada jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu pencegahan terjadinya konflik, menghadapi tatkala konflik terlanjur berlangsung, dan apa yang harus dilakukan setelah konflik terlanjur berlangsung, dan apa yang harus dilakukan setelah konflik reda.
Pada kesempatan pertama, Insya Allah kita akan mengurai tentang bagaimana meminimalkan terjadinya konflik didalam rumah tangga kita.

1. Siap dengan hal yang tidak kita duga
Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mudah bagi kita bila yang terjadi cocok dengan harapan kita. Namun, bagaimanapun, setiap orang itu beda-beda. Tidak semuanya harus sama "gelombangnya" dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak merusak.
Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita ternyata tidak seideal yang kita impikan. Maka kita harus siap melihat ternyata dia tidak rapi, tidak secantik yang dibayangkan, atau tidak segesit yang kita harapkan, misalnya. Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita idamkan, tidak ada pada dirinya. Juga sebaliknya, apabila yang kita luar biasa benci. Ternyata istri atau suami kita memiliki sikap tersebut.

2. Memperbanyak Pesan Aku
Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan yang ada, adalah memperbanyak pesan aku. Sebab, umumnya makin orang lain mengetahui kita, makin siap dia menghadapi kita. Misalnya sebagai istri kita terbiasa katakanlah mengorok ketika tidur. Maka agar suami dapat siap menghadapi hal ini, kita bisa mengatakan
"Mas orang bilang, kalau tidur saya itu suka ngorok...
Jadi Mas siap-siap saja, sebab, sebetulnya, saya sendiri enggak niat ngorok."
Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita:
"Saya kalau jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau tidak tahajud. Dan kalau sedang tahajud, saya tidak ingin ada suara yang menggangu."
Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akibat satu sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya. Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan-ketersinggungan. Maka disinilah perlunya kita belajar memberitahukan apa yang kita inginkan. Inilah esensi dari pesan aku.
Dengan demikian ini akan membuat peluang konflik tidak membesar. Karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita. Sebab justru dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam menerima kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain.
Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orangtua kita memiliki sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu. Maka katakan saja: "Pak... Saya tidak ber-
maksud meremehkan. Namun begitulah adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu difikirkan, itu memang sudah kebiasaan mereka, Juga dalam hal makan, yang ikhlas saja ya Pak? kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak...?"
Sungguh sahabat, makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan masing-masing diantara kita.
Alkisah, dalam sebuah keluarga. Sering sekali terjadi pertengkaran. Akhirnya suatu ketika si istri bicara "Pak. Maaf ya keluarga kami memang bertabiat keras. Sehingga bagi kami kemarahan itu menjadi hal yang amat biasa..." Lalu suaminya membalas:"Sedangkan Papa lahir dari keluarga pendiam. Dan jarang sekali ada pertempuran ..."
Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak terjadi. Jadi kita harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan kita . Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan.Maka kita bisa menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali.
Sehingga ketika kita tiba-tiba memalingkan muka dari dia, istri kita itu tidak tersinggung. Karena tata nilainya sudah disamakan.
Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri. Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar. Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak-tidak berkenaan dengan pasangan hidup kita. Dongkol, marah, benci dan seterusnya.
Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal.

3. Tentang Aturan
Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau tak tahu aturan bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras? Jadi kita harus membuat aturan sekaligus ...sosialisasikan!
Misalnya istri kita jarang mematikan kran setelah menggunakan. Bisa jadi kita dongkol. Disisi lain, boleh jadi istri malah tak merasa bersalah sama sekali. Sebab dia berasal dari desa. Dan di Desa ... Pancuran toh tak pernah ditutup?
Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini. Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin orang tahu peraturan maka peluang berbuat makin minimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar